 |
Pengertian Ranah Afektif |
Istilah ranah afektif dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “ranah” yang berarti “bagian (satuan) perilaku manusia” dan “Afektif” berarti “berkenaan dengan perasaan”. Jadi, ranah afektif merupakan bagian dari tingkah laku manusia yang berhubungan dengan perasaan. Sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah affective domain. Menurut Anita E. Woolfolk, “The affective domain is emotional objectives”. Maksudnya ranah afektif merupakan tujuan-tujuan yang berkenaan dengan kondisi emosi seseorang. Dalam hal ini ranah afektif dimaksudkan untuk menggugah emosi siswa agar ikut berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Di dalam mendefinisikan ranah afektif, para ahli banyak yang menyebutkan bahwa ranah afektif itu merupakan tujuan yang berkenaan dengan sikap dan nilai. Dari definisi tersebut di atas, pengertian ranah afektif terlihat sangat singkat dan masih membutuhkan pemahaman sehingga untuk lebih jelasnya, penulis paparkan
pendapat Krothwohl mengenai pengertian ranah afektif dalam bukunya yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives (Affective Domain)yang mengatakan bahwa: ranah afektif adalah: “Objectives which emphasize a feeling tone, an emotion or a degree of acceptance or rejection. Affective objective vary from simple attention to selected phenomena to complex but internally consistent qualities of character and conscience. It expressed as interest, attitudes, appreciations, values and emotional sets or biases”. Artinya : “Tujuan-tujuan yang lebih mengutamakan pada perasaan, emosi atau tingkat penerimaan atau penolakan. Tujuan afektif mengubah perhatian dari yang sederhana menuju yang rumit untuk memilih fenomena serta menanamkan fenomena itu sesuai dengan karakter dan kata hatinya. Ranah afektif terlihat dalam sikap, minat, apresiasi, nilai dan emosi atau prasangka”.
Dari
definisi ranah afektif di atas dapat dipahami bahwa dalam ranah afektif bukan sikap dan nilai saja yang diutamakan, tetapi meliputi hal yang lebih rumit artinya siswa diharapkan memperhatikan sebuah fenomena selanjutnya ia memberikan sebuah respon tertentu untuk diorganisasikan dalam dirinya sehingga siswa mampu mengambil sikap-sikap, prinsip-prinsip yang menjadi bagian dari dirinya di dalam memberikan penilaian sebuah fenomena dan dalam menuntun tingkah laku moralnya.