Pengertian Santun Berbahasa - Santun dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya, sabar, dan tenang, sopan). Menurut Moeliono, bahasa santun berkaitan dengan tata bahasa dan pilihan kata, yaitu penutur bahasa menggunakan tata bahasa yang baku, mampu memilih kata-kata yang sesuai dengan isi atau pesan yang disampaikan dan sesuai juga dengan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat itu. Bahasa yang tidak santun adalah bahasa yang kasar, melukai perasaan orang, kosa kata yang membuat tidak enak orang yang mendengarkan. Karena itu bahasa santun berkaitan dengan perasaan dan tata nilai moral masyarakat penggunanya.
Kesantunan bahasa dalam Al Qur’an berkaitan dengan cara pengucapan, perilaku, dan kosa kata yang santun serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan penutur.Santun dalam istilah Al Qur’an bisa diidentifikasikan dengan akhlak darisegi bahasa karena akhlak berarti ciptaan, atau apa yang tercipta, datang, lahir dari manusia dalam kaitan dengan perilaku. Perbedaan santun dan akhlak dapat dilihat dari sumber dan dampaknya. Dari segi sumber, akhlak datang dari Allah, sedangkan santun dari masyarakat/budaya. Dari segi dampak dapat dibedakan kalau akhlak dampaknya dipandang baik oleh manusia sekaligus baik dalam pandangan Allah, sedangkan santun dipandang baik oleh masyarakat, tetapi tidak selalu dipandang baik oleh Allah.
Berbahasa santun menuntut proses pembelajaran bukan hanya mengajarkan kosa kata dan kalimat bahasa yang santun tetapi menuntut penghayatan terhadap norma yang mendasarinya. Bahasa santun menuntut gerak isyarat (gesture) dan mimik sesuai dengan kosa kata atau kalimat yang diucapkannya. Seseorang dapat melakukan kesantunan semacam itu, jika telah terjadi penghayatan yang mendalam terhadap nilai dan norma yang melingkupinya. Proses penghayatan bukan hanya melibatkan pikiran saja, tetapi juga perasaan-perasaan, sehingga nuansa berbahasa dapat dihayati dan dialami dengan sempurna. Proses pendidikan seperti itu bukan proses transformasi pengetahuan, melainkan penanaman, penghayatan, pertimbangan dan aktualisasi nilai- nilai.
Sikap berbahasa ditekankan pada kesadaran diri dalam menggunakan bahasa secara tertib, tiap orang harus disadarkan untuk bertanggung jawab terhadap bahasa ibunya dan bahasa nasionalnya. Ciri-ciri orang yang bertanggung jawab terhadap suatu bahasa dan pemakai bahasa adalah:
a. Selalu berhati-hati menggunakan bahasa
b. Tidak merasa senang melihat orang yang menggunakan bahasa secara serampangan
c. Memperingatkan pemakai bahasa kalau ternyata ia membuat kekeliruan
d. Tertarik perhatiannya kalau orang menjelaskan hal yang berhubungan dengan bahasa
e. Dapat mengoreksi pemakaian bahasa orang lain
f. Berusaha menambah pengetahuan tentang bahasa tersebut
g. Bertanya kepada ahlinya kalau menghadapi persoalan bahasa
Jelas disini bahwa tiap orang diusahakan bukan saja harus mencintai bahasanya melainkan juga menggunakan bahasanya secara tertib. Mereka harus sadar bahwa bahasaitu akan diwariskan lagi kepada generasi sesudah dia. Tanggung jawab bahasa bukan saja terbatas pada pemilihan kata dan kalimat yang baik, melainkan juga bagaimana caranya mengucapkan kata dan kalimat itu.
Sikap terhadap bahasa dan berbahasa dapat dilihat dari 2 segi yakni positif dan negatif. Sikap positif terhadap bahasa lebih banyak kita lihat dari pelaksanaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari oleh pemakai bahasa. Sikap positif terhadap bahasa dan berbahasa dapat kita lihat dari ciri-ciri di atas.
Berbahasa santun pada dasarnya adalah ketrampilan yang merupakan akumulasi dari penghayatan terhadap nilai atau dengan kata lain adalah bentuk tingkah laku yang telah melalui proses penghayatan dan pemaknaan terhadap nilai. Sebagai bahasa, kesantunan itu harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari- hari dalam konteks komunikasi sosial. Karena itu bahasa santun dididikan untuk dilaksanakan secara praktis dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain pembinaan bahasa santun adalah pembelajaran bahasa yang memiliki kegunaan praktis yaitu kemampuan dan ketrampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dilihat dari segi ketrampilan, berbahasa santun merupakan ketrampilan yang harus dimiliki setiap orang sebagai warga dan anggota masyarakat yang bertata nilai. Bahasa santun menjadi ciri manusia yang memahami dan menghayati nilai-nilai budaya dan agama. Orang yang berbahasa santun akan mampu menempatkan dirinya ditengah-tengah masyarakat sebagai anggota masyarakat yang baik dan memberi manfaat
bagi lingkungannya.
Etika berbahasa erat kaitannya dengan pemilihan kode bahasa, norma-norma sosial, dan sistem budaya yang berlaku dalam satu masyarakat. Oleh karena itu etika berbahasa ini antara lain mengatur:
a. Apa yang harus dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu kepada seorang partisipan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat.
b. Ragam bahasa apa yang paling wajar kita gunakan dalam situasi sosio-linguistik dan budaya.
c. Kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita dan menyela pembicaraan orang lain.
d. Kapan kita harus diam.
e. Bagaimana kualitas suara atau sikap fisik kita dalam berbicara.
Butir-butir aturan dalam beretika berbahasa di atas tidaklah merupakan hal yang terpisah, melainkan merupakan hal yang menyatu di dalam tindak laku berbahasa.