Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Terdapat unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan pembelajaran kooperatif dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson, seperti yang dikutip oleh Agus Suprijono mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran harus diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:
1) Positive interdependence(saling ketergantungan positif)
2) Personal responsibility(tanggung jawab perseorangan)
3) Face to face promotive interaction(interaktif promotif)
4) Interpersonal skill(komunikasi antar anggota)
5) Group processing(pemrosesan kelompok)
Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari aktivitas pembelajaran kooperatif diantaranya:
1) Mengurangi kecemasan (reduction of anxiety)
a) menghilangkan perasaan “terisolasi” dan panik
b) menggantikan bentuk persaingan (competition) dengan saling kerjasama (cooperation)
c) melibatkan peserta didik untuk aktif dalam proses belajar.
2) Belajar melalui komunikasi (learning through communication), seperti:
a) mereka dapat berdiskusi (discuss), berdebat (debate), atau gagasan, konsep dan keahlian sampai benar-benar memahaminya.
b) mereka memiliki rasa peduli (care), rasa tanggungjawab (take responbility) terhadap teman lain dalam proses belajarnya.
c) Mereka dapat belajar menghargai (learn to appreciate) perbedaan etnite (ethnicity), perbedaan tingkat kemampuan (performance level), dan cacat fisik (disability).
3) Dengan pembelajaran kooperatif memungkinkan peserta didik dapat belajar bersama, saling membantu, mengintegrasikan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah ia miliki, dan menemukan pemahamannya sendiri lewat eksplorasi, diskusi, menjelaskan, mencari hubungan dan mempertanyakan gagasan-gagasan baru yang muncul dalam kelompoknya.
Adapun kelemahan pembelajaran kooperatif sebagai model pembelajaran adalah memerlukan waktu yang relatif lama dan terdapat kemungkinan bagi peserta didik hanya “mendomleng” nama untuk mendapatkan nilai tanpa ikut bekerjasama.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang memiliki ragam yang cukup banyak, seperti STAD (Student Teams Achievement Division), TGT (Teams Games Tournament), TAI (Team Assisted Individualization), jigsaw, jigsaw II, atau CIRC (Coopeeratve Integrated Reading and Composition).
Dalam penelitian ini akan lebih dikhususkan pada model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament), karna model pembelajaran ini adalah salah satu model pembelajaran yang memungkinkan untuk diterapkan pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel yang terletak pada pertengahan semester. Model pembelajaran ini memberikan suasana baru bagi peserta didik dan merupakan pembelajaran yang menyenangkan namun tetap memberikan tanggung jawab individu sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.