 |
Akhlaq |
Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali, kata al-khalq‘fisik’ dan al-khuluq ‘akhlaq’ adalah dua kata yang sering dipakai bersamaan. Seperti redaksi bahasa Arab ini, fulaan husnu al-khalq wa al-khuluqyang artinya “ si Fulan baik lahirnya juga batinnya”. Sehingga yang dimaksud dengan kata ‘al-khalqadalah bentuk lahirnya. Sedangkan al-khuluqadalah bentuk batinnya.
Menurut Muhammad bin Ali asy-Syariif al-Jurjani akhlaq adalah bagi sesuatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu berpikir dan merenung. Jika dari sifat tersebut terlahir pernuatan-perbuatan yang indah menurut akal dan syariat, dengan mudah, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlaq yang baik.
Sedangkan jika darinya terlahir perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan akhlaq yang buruk. Kemudian al-Jurjani berkata, “Kami katakan akhlaq itu sebagai suatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, karena orang yang mengeluarkan derma jarang-jarang dan hanya kadang-kadang saja, makaakhlaqnya tidak dinamakan sebagai seorang yang dermawan, selama sifat tersebut tak tertanam kuat dalam dirinya. Demikian juga orang yang berusaha diam ketika marah, dengan sulit dan usaha keras, maka orang orang tersebut tidak dikatakan sebagai orang yang berakhlaq pemaaf.
Akhlaq itu bukanlah ungkapan dari perbuatan. Karena bisa saja ada orang yang akhlaqnya dermawan, tapi tidak mengeluarkan derma. Hal itu terjadi kemungkinan karena ia tidak punya uang atau karena ada halangan. Sementara bisa saja ada orang yang akhlaqnya bakhil,tapi ia mengeluarkan derma, karena ada suatu motif tertentu yang mendorongnya atau karena ingin pamer. Menurut Ahmad bin Mushthafa seorang ulama ensiklopedi mendefinisikan akhlaq adalah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-jenis keutamaan. Dan keutamaan itu adalah terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatan, yaitu: kekuatan berfikir, kekuatan marah, kekuatan syahwat. Selain itu definisi menurut Muhammad bin Ali al-Faaruqi at-Tahanawi akhlaq adalah keseluruhannya kebiasaan, sifat alami, agama dan harga diri.
Menurut definisi para ulama, akhlaq ialah suatu sifat yang tertanam dalam diri dengan kuat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa diawali berfikir panjang, merenung, dan memaksakan diri. Sedangkan sifat-sifat yang tertanam kuat dalam diri, seperti kemarahan seorang yang asalnya pemaaf, maka itu bukan akhlaq. Demikian juga, sifat kuat yang justru melahirkan perbuatan-perbuatan kejiwaan dengan sulit dan berfikir panjang, seperti orang bakhil. Berusaha menjadi dermawan ketika ingin dipandang orang. Jika demikian maka tidaklah dapat dinamakan akhlaq.
Ukuran akhlaq yang baik adalah jikaia sesuai dengan syariat yang Allah gariskan, berhak pula mendapat rahmat dan ridhaNya. Dalam memegang akhlaq yang baik memperhatikan kepribadian masing-masing hingga membawa pada kebaikan dunia dan akherat. Untuk mencapai hal itu adanya sebuah kekuatan yang mampu memikirkan apa yang dibutuhkan dalam perencanaan.
Perencanaan dan aturan untuk semua makhluk hidup. Semua harus ada aturannya kalau ingin hidup tentram dengan penilaian kekuatan tadi. Kekuatan akal, berbicara, insting, dan jiwa yang tenang, dapat pula disebut sebagai kekuatan yang menjadi dasar untuk memahami hakikat-hakikat, keinginan untuk memperhatikan akibat-akibat setiap perbuatan dan membedakan antara yang mendatangkan manfaat dan yang menghasilkan kerusakan. Hampir semua manusia dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Ajaran akhlaq sangatlah luas hingga batasan antara akidah dan akhlaq hampir sama. Sebenarnya dasar pendidikan akhlaq seorang muslim adalahakidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, karena akhlaq tersarikan dari akidah dan pancarandari akidah itu sendiri.
Akidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinan terhadapNya juga seperti itu. Karena yang tahu Sang Maha Khaliq dengan benar, yakin wujud, sifat dan perbuatanNya niscaya akan mudah berperilaku baik sesuai perintah Allah. Hingga tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perintah Allah. Keyakinan terhadap Allah, malaikat, Kitab, dan RasulNya serta syariat yang mereka bawa tidak akan dapat mencapai kesempurnaan kecuali jika disertai dengan keyakinan adanya hari akhir. Agar manusia memiliki akhlaq yang mulia haruslah benar-benar beriman kepada Allah swt bahwa Ia adalah Zat yang menghidupkan dan yang mematikan, Dialah yang berhak menciptakan dan memerintahkan, serta hanya kepadaNya tempat kembali.