Pengalaman spiritual bisa juga disebut sebagai pengalaman keagamaan. Istilah “spiritual” ini berasal dari bahasa Inggris “Spiritual” latin, spiritual dari spiritus (ruh) yang berarti immaterial tidak jasmani, terdiri dari ruh. Mengacu kemampuan lebih tinggi (mental, intelektual, estetik religius), dan nilai-nilai pikiran. Spiritual juga harus mengacu pada nilai-nilai kemanusiaan yang non material, seperti keindahan, kebaikan, kebenaran, kecintaan, belas kasih, dan kesucian. Terasa kepekaan pada perasaan dan emosi-emosi religius yang estetik.
Adapun subyek materi spiritual itu sendiri adalah perhatian khusu terhadap alam “keabadian” sekaligus bahan komparasi dalam konteks yang global terhadap fenomena kekinian. Spiritual juga menjadi suatu penanda uneversalitas dalam hal mencari petunjuk , dan arti sebagai pembatas tingkatanya untuk memahami spiritualitas. Pertama, spiritual sebagai pengalaman hidup praxis, dalam sebuah agama dianggap sebagai kepatuhan terhadap kepercayaan yang diyakininya. Kedua, spiritual sebagai sebuah pembelajaran yang menanamkan dan mengembangkan hal-hal yang bersifat praxis tersebut sekaligus sebagai petunjuk hidup. Ketiga, spiritual sebagai sesuatu yang sistematik.
Makna sesungguhnya dari kehidupan spiritual bukan hanya hidup dengan badan, tetapi hidup dengan hati, dengan jiwa. Lantas, mengapa orang biasa tidak menjalani kehidupan spiritual jika ia memiliki hati dan jiwa, Sebab hatinya belum manyadarinya, ia belum menyadari jiwanya.
 |
Pengalaman Spiritual |
Bangunan spiritual adalah elemen yang sangat penting dan mendasar. Ia menjadi fondasi makna kehidupan. Tanpa bangunan spiritual yang kokoh, kehidupan seseorang menjadi hampa, kosong limbung, bahkan bagaikan terpenjara. Ia menghabiskan waktu dengan sia-sia tanpa makna.
Hujjatul islam, Abu Hamid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad al-ghozali, dalam kitabnya, Ihya` ulumuddin menjelaskan, bahwa kesadaran manusia terletak pada hatinya. Lebih lanjut, hati manusia itu memiliki dua macam kesadaran, yaitu alam empiris (alam syahadah) dan kesadaran alam metafisis (alam malakut). Pada alam empiris, hati manusia mampu merespon semua informasi yang diberikan oleh panca indra (al-khawwas). Sedangkan pada alam malakut, hati manusia bergabung lansung dengan lauh mahfudz dan alam malaikat, baik melalui ilham maupun mimpi.
Spiritual berasal dari dalam, hasil dari pengenalan, penyadaran, dan penghormatan serta spiritual dapat didefinisikan menjadi tujuh bagian : Berserah Diri, Kasih, Tak Terbatas, Pikiran Kosong, Murah Hati, Keterhubungan, dan Ceria. Ini menunjukkan bahwa spiritual tidak terbatas pada agama apapun.
Spirit adalah jiwa Tuhan dalam diri kita dan apapun yang menarik pikiran keluar bersifat tidak sepiritual dan apapun yang menarik pikiran kedalam bersifat spiritual. Kunci pemahaman spiritualitas adalah konsep tentang dunia lahir dan batin ini satu dunia, namun dua aspek unik keberadaan manusia.