Lebih memprihatinkan faham tersebut kini banyak merasuki kalangan muda yang sedang bergulat pada puncak idealisme, yaitu remaja yang telah berada pada masa adolescent atau yang telah duduk di bangku mahasiswa (usia 18-25). Masa remaja adalah masa rentan dengan permasalahan-permasalahan yang dapat mengarahkan remaja untuk melakukan seks bebas.Tidak kuatnya menahan hawa nafsu pada masa remaja akan membuat masa depan mereka maju dan terpuruk. Pendidikan seks yang terlalu terbuka akan menyebabkan lebih banyak remaja melakukan seks pranikah karena terlalu mengerti dengan dampak-dampaknya. Masalah seks bebas adalah masalah-masalah yang sangat kompleks, oleh karena itu kalau kita memberikan pendidikan yang tepat maka terlebih dulu kita harus menilik pada aspek budaya kita karena keterbatasankita untuk mencerna materi seks yang benar.
 |
Sex Bebas |
Beberapa perbuatan yang dapat diklasifikasikan menjadi aspek-aspek dalam perilaku seks yang meliputi mencium pipi, mencium bibir, necking, petting, dan intercourse. Seperti halnya Pakar seks yang juga Spesialis Obsetridan Ginekologi, Nugraha, yang dikutip Gemari September 2001 mengungkapkan bahwa dari tahun-ketahun data remaja yang melakukan hubungan seks semakin meningkat. Dari sekitar 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada tahun 2000. Kelompok remaja yang masuk dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17 - 21 tahun, dan umurnya masih sekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Survey yang dilakukan oleh Pilar PKBI Jawa Tengah (2002, h.2) mengenai aktivitas mahasiswa dalam berpacaran antara lain berpegang tangan(93,3%) mencium pipi(84,6%), mencium bibir(60,9%), necking(3,61%), petting(25%), dan melakukan Intercourse(7,6%). Dan kemudian hasil penelitian dari PKBI tersebut dijadikan oleh penulis sebagai aspek untuk mengklasifikasikan bentuk-bentuk perilaku seksual yang ditulis sebagai tolok ukur penelitian terhadap mahasiswa yang bermukim di Kelurahan Plombokan Semarang.
Perilaku seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu dorongan seksual, nilai-nilai sosio kultural dan moral, pengetahuan seksual, dan Fungsi seksual. Keempat faktor ini sangat erat berkaitan dalam mempengaruhi perilaku seksual seseorang.
Jikalau dorongan seksual normal maka perilaku seksual juga normal. Tetapi ekspresi dorongan seksual sangat diatur oleh nilai-nilai sosio cultural dan moral yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama. Disisi lain, nilai-nilai agama sangat berhubungan atau dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang berhubungan dangen seksualitas.
Banyak contoh bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhubungan dengan seksualitas pada akhirnya mempengaruhi perilaku seksual manusia.
Fungsi seksual juga sangat mempengaruhi perilaku seksual. Seseorang dengan fungsi seksual yang normal, maka perilaku seksualnya berbeda dengan mereka yang mengalami disfungsi seksual (gangguan fungsi) seksual.
Berdasarkan penelitian oleh Sarlito Wirawan Sarwono yang dilakukan terhadap 471 remaja Jakarta, dorongan seksual remaja putra lebih besar dibandingkan remaja putri, dengan rasa keingingtahuan remaja putra yang lebih tinggi dibandingkan remaja putri tentang seksualita, remaja putra cenderung lebih terbuka dan fullgardalam berbagai masalah tentang seksualita, sedangkan remaja putri masih banyak ataupun lebih berhati-hati dalam masalah seksualitas.
Merebaknya isu-isu moral sekarang ini terkadang bukan lagi menjadi masalah ringan karena masalah-masalah seperti ini akan semakin bertambah pelik dalam tiap tahunnya, terlebih pelaku-pelaku beserta korbannya adalah kaum remaja terutama para pelajar dan mahasiswa. Seperti halnya seks bebas, pengaruh kultur dan moralitas sampai detik ini masih menjadi satu masalah yang teknis dan bukan sebagai refleksi sebagaimana layaknya moral diaplikasikan dalam diri seseorang melalui pendidikan.
Pengetahuan seksual yang didapat dari remaja lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan serta pesatnya laju perkembangan eknologi informasi sekarang ini. Dari penelitian yang dulakukan oleh Sarwono, menemukan bahwasannya mayoritas responden mendapatkan informasi tentang seksualita melalui teman yang juga menjadi sember penerangan utama. Hal ini berbanding terbalik dengan hal yang semestinya, yang menyatakan bahwa sesungguhnya pengetahuan seksualita harus lebih banyak diperoleh dari orang tua dan bukan dariorang lain diluar lingkungan keluarga.
Menurut penelitian Sarwono pula ditemukan bahwasannya pengetahuan remaja tentang fungsi seksual itu sendiri sangat sempit, kebanyakan dari responden mengatakan bahwa seksual adalah pemenuhan kebutuhan biologis semata yang dilakukan didalamnya hanya seperti senggama, pacaran, dan perpaduan alat kelamin. Terlebih dari itu responden tidak memahami aturan-aturan yang berlaku sebelum melakukan hal-hal yang berkaitan dengan seksualita.