Sementara itu Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul “emotional intelligence” mengatakan: Emotional Intelligence: Abilities such as being able to motivate one self and persist in the face of frustrations: to control impulse and delay gratification; to regulate one's moods and keep distress from swamping the ability to think; to empathize and to hope (Goleman, 1996: 36).
Kecerdasan emosional adalah kemampuan-kemampuan seperti kemampuan memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan
berdoa.
 |
Pengertian Kecerdasan Emosional |
Dalam bukunya yang lain Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional merujuk pada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannnya dengan orang lain.
Dalam buku yang berjudul ESQ, Ary Ginanjar Agustian menyatakan bahwa “Kunci kecerdasan emosi adalah pada kejujuran suara hati.” Sedangkan cara untuk memperoleh dan mengenal suara hati sejati beliau menjawabnya melalui surat Al-‘Alaq ayat 1-5: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpan darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.s Al-Alaq: 1-5)
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengelola perasaan dan emosi, baik pada diri sendiri dan pada orang lain dalam berinteraksi, kemampuan memotivasi diri sendiri dan berempati dengan informasi yang diperoleh dari seluruh potensi psikologi yang dimiliki untuk membimbing pikiran dan tindakan sehingga mampu mengatasi tuntutan kehidupan.