Pendidikan pencak silat yang mungkin saat ini hanya menyangkut aspek “psikomotorik” atau pemberian ketrampilan gerak, sudah saatnya digeser menjadi sebuah model pendidikan menyeluruh bagi rakyat Indonesia yang menyangkut aspek kognitif maupun afektif di dalamnya.
Aspek kognitif merupakan aspek kemampuan siswa untuk melakukan pengembangan pemikiran secara logis. Aspek kognitif mempunyai Sasaran mencakup proses intelektual seperti mengingat, memahami, memecahkan persoalan dan memprosesnya. Sedangkan Aspek afektif merupakan aspek kemampuan siswa untuk mengolah rasa dan sikap.
 |
Pencak Silat |
Apabila para insan pencak silat tidak mencoba menggali pangkal nilai pendidikan pencak silat yang ada, maka pencak silat akan mengalami kehilangan generasi penerusnya. Jangankan menjadi olahraga beladiri di negeri sendiri, bertahan saja mungkin tidak bisa.
Sekilas Pencak Silat memang Sebagai pendidikan olah raga yang mengutamakan kegiatan dan kekuatan fisik saja, tetapi ternyata Pencak Silat memiliki multi aspek, karena mengandung tidak hanya aspek olah raga, bela diri, seni dan budaya tetapi juga sejarah.
Hal senada juga diungkapkan oleh Henri Cambert-Loir, menurutnya bahwa Pencak Silat bersangkut paut dengan olah raga, dengan seni, dengan rohani, pendidikan dan dengan kesatuan masarakat.
Menurut PB. IPSI, yang dikutip oleh O’ong Maryono bahwa Pencak Silat adalah suatu kesatuan empat rupa seperti tercermin pada senjata trisula dalam lambang IPSI, dimana ketiga ujungnya melambangkan unsur seni, bela diri dan olah raga, dan gagangnya mewakili unsur mental spiritual.
Sebagai seni, Pencak Silat merupakan wujud kebudayaan pada bentuk kaidah gerak dan irama, yang tahluk pada keselarasan, keseimbangan, dan keserasian antara wiraga, wirama dan wirasa.
Ketika berbicara tentang seni berarti merambah dunia keindahan. Sedangkan untuk menghayati keindahan dibutuhkan suatu apresiasi yang cukup memadai disamping kepekaan rasa. Ini dikandung maksud bahwa pencak silat ingin membawa penghayatan terhadap kepekaan rasa.
Rasa disini ialah rasa keindahan, maka penghayat Pencak Silat itupun akan terbawa pada kepekaan rasa keindahan. Efeknya, jiwa orang menjadi indah, kita katakan jiwa yang indah yaitu jiwa yang sehat.
Demikianlah
pengertian pencak silat. Sebagai bela diri, Pencak Silat dipertunjukan guna memperkuat naluri manusia membela diri terhadap berbagai macam ancaman dan bahaya. Guna mencapai tujuan ini taktik dan tehnik yang dipergunakan pesilat mengutamakan efektivitas untuk menjamin keamanan fisik.
Begitupun sebagai olah raga Pencak Silat mengutamakan kegiatan jasmani, agar mendapat kebugaran, ketangkasan maupun prestasi olah raga. Pesilat berupaya untuk meningkatkan ke kelincahan anggota tubuh dan kekuatan gerak sekaligus menamba semangat agar berprestasi didalam pertandingan.
Sebaliknya, sebagai olah batin Pencak Silat lebih banyak menitik beratkan pembentukan sikap dan watak kepribadian pesilat yang sesuai dengan falsafah budi pekerti luhur.